Minggu, 24 April 2011

Dilema ....

kemarin, hari ini, dan besok saya harus terpisah ama dia. Dan secara kebetulan hari ini saya bertemu obsesi saya semasa SMA. Di rumah saya. Ya, dia yang selalu saya impikan setiap hari selama saya SMA, hari ini datang ke rumah saya. Sebenarnya itu tadi bukan pertemuan pertama. Minggu kemarin, saya habiskan hari minggu dengan ngobro dengannya. God, inilah hal yang saya impikan pada saat saya di SMA dulu...betapa saya berdoa kepadaNya, semoga dia-yang-menjadi-obsesi-saya mau memandang saya, tersenyum kepada saya, atau bahkan menyapa saya...Saya terlalu malu untuk mengatakan semua ini kepadanya dulu. Selama 3 tahun satu sekolah dengannya, saya tidak pernah sekalipun memiliki keberanian untuk menyapanya. Saya biarkan impian saya terkubur sejalan dengan waktu. Namun, saya tau dia tau apa yang saya rasakan. Saya pernah memberinya kado ultah sebuah scrapbook. Scrapbook yang isinya foto-fotonya sejumlah 18 karena hari itu dia ultah yang ke 18. And the most stupid thing adalah saya TIDAK BERANI untuk memberikannya sendiri. Yach...saya sudah bersusah payah tiap hari nyicil bikin scrapbook, tapi pas hari ultahnya, saya tidak berani memberikannya...Jadilah saya titipkan ke temen deketnya. Dan itu saat terakhir saya melihatnya karena kita lulus dari SMA.
Dan sekarang, setelah 4 tahun kita tidak pernah bertemu, setelah saya bisa melupakannya, dia muncul lagi di hadapan saya. Dia ngobrol dengan saya....hal yang paling saya inginkan waktu SMA dulu..Dia datang saat saya sudah melabuhkan hati kepada orang lain. Kenapa, Tuhan? Saya tidak pernah sekalipun berpikir untuk menghianati dia-yang-telah-merebut-hati-saya. Namun, saya juga tidak dapat membohongi hati saya bahwa saya bahagia jika berada di samping obsesi saya.....